Jumat, 09 Oktober 2015

NUTRISI MANUSIA DAN KAITANNYA DENGAN PENGGUNAAN NAPZA(diluar yang aditif dalam makanan dan minuman):HEROIN,KOKAIN,SABU SABU,MIRAS,Dsb.
Diajukan untuk memenuhi tugas biokimia nutrisi oleh
Prof.Dr.Ramlan Silaban,M.Si
 







YUNI ANDRIANI SIREGAR
Nim.4141131055
Kimia dik b 2014
Jurusan kimia
Fakultas matematika dan ilmu pengetahuan alam
2015
Remaja dan pola asuh orang tua terhadap penyalahgunaan NAPZA
Abstrak

Kini lalu lintas perdagangan narkoba dunia menjadikan Indonesia sebagai bagian dari jalur perdagangan narkoba internasional dengan melalui dua jalur utama yang dikenal dengan Segitiga Emas (Golden Triangle) yang meliputi kawasan Myanmar-Thailand-Laos dan Bulan Sabit Emas (Golden Cresecnt) yakni, Iran-Pakistan-Afganistan. Usia remaja merupakan suatu tahapan usia yang penting karena merupakan masa transisi dari usia kanak-kanak menuju dewasa. Era reformasi memberikan pengaruh berupa perubahan perilaku dan gaya hidup remaja, terutama di wilayah perkotaan. Perubahan perilaku dan gaya hidup ini akan mempengaruhi status gizi remaja. Tujuan dari penelitian ini adalah mempelajari hubungan gaya hidup dengan status gizi remaja. Gaya hidup yang diteliti meliputi kebiasaan olahraga, merokok, mengonsumsi obat-obatan dan minuman beralkohol. Masalah sosial budaya dan sekolah yang ditemukan adalah sulit belajar, membolos, kenakalan remaja (“tawuran”), pergeseran nilai budaya. Sedangkan masalah gangguan emosional yang diidentifikasikan kurang percaya diri, stres di samping terdapat pula masalah penyalahgunaan obat dan merokok. Dalam masalah keluarga telah dicatat bahwa kurangnya fungsi peranan orangtua, konflik peran, perbedaan persepsi kasih saying dan kurangnya serta kesulitan komunikasi telah menyebabkan disfungsi keluarga

Latar belakang
               Pada era 2015,Napza erat dengan kehidupan masyarakat..Bahkan sekarang Napza bukan hanya ada untuk orang dewasa,akan tetapi yang ditakutkan remaja akan terhasut dengan barang haram ini.Napza memang ada sisi baiknya yang digunakan dalam bidang kedokteran yang akan digunakan dalam hal hal kesehatan,seperti operasi yang akan digunakan untuk menghilangkan rasa sakit ketika akan di operasi,akan tetapi ketika Napza disalahgunakan dengan pihak yang tidak sesuai akan memberikan hasil yang  buruk dan mengancam masa depannya.Terutama halnya jika Napza  ini akan digunakan oleh remaja saat ini,maka akan membuat masa depan suatu bangsa akan terancam.
                   Oleh karena itulah penulis melatar belakangi pembuatan artikel ini,karena mengingat akan zaman globalisasi yang sangat modern dan serba mudah di dapat untuk hal hal baik bersifat baik atau buruk.



Pendahuluan
          Kelompok umur remaja merupakan fase  pertumbuhan yang pesat selain pada masa balita,sehingga wajar kalau pada masa ini dibutuhkanzat gizi yang relatif lebih besar jumlahnya.Kebanyakan orang berpikir bahwa remajamempunyai fleksibilitas dan vitalitas yang tinggi sehingga mempunyai sedikit masalah kesehatan dan menganggap mereka lebih sehat dari kelompok usia yang lain. Jika kita teliti lebih jauh ternyata remaja mempunyai masalah kesehatan yang sangat kompleks. Masalah gizi pada remaja akan berdampak negatif pada tingkat kesehatan masyarakat misalnya penurunan konsentrasi belajar, risiko melahirkan bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) serta penurunan kesegaran jasmani (Sediaoetama, 2008).

            Pada fase remaja, fisik mereka terus berkembang. Demikian pula dengan aspek sosial maupun psikologisnya. Perubahan ini membuat seorang remaja mengalami banyak ragam gaya hidup, perilaku, dan tidak terkecuali pengalaman dalam menentukan makanan yang akan dikonsumsi. Hal ini yang akan berpengaruh pada keadaan gizi seorang remaja. Perilaku yang salah banyak dijumpai pada remaja, adanya perubahan emosional, sosial dan intelektual normal terjadi karena mereka menginginkan kebebasan dan mencoba hal-hal baru untuk menemukan jati diri. Salah satu perilaku yang salah adalah adanya kecenderungan untuk mengikuti pola dan gaya hidup modern (Khomsan, 2002).
           
             Pada masa remaja seorang anak dalam suasana atau keadaan peka karena kehidupan emosionalnya yang sering berganti-ganti, rasa ingin tahu yang lebih dalam lagi terhadap sesuatu yang baru kadang kala membawa mereka kepada hal-hal yang bersifat negatif. Para remaja pada usia ini merupakan masa peralihan dari kanak-kanak menuju kedewasaan masih memiliki kemampuan yang sangat rendah untuk menolak ajakan negatif dari temannya, sehingga mereka kurang mampu menghindari ajakan tersebut apalagi keinginan akan mencoba hal-hal yang baru. Remaja berada dalam tahap pencarian identitas sehingga keingintahuan mereka sangat tinggi apalagi iming-iming dari teman mereka bahwa Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif lainnya (NAPZA) itu nikmat dan menjadi lambing sebagai anak gaul ditambah lagi dengan lingkungan pergaulan di kalangan anak remaja yang cenderung tidak baik. Penanggulangan Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif lainnya (NAPZA) seringkali hanya sebatas bagaimana pencegahan, pemberantasan pengedar dan penangkapan para pengguna.

            Banyak penelitian yang telah dilakukan untuk meneliti perilaku gaya hidup pada remaja. Berdasarkan penelitian Martini dan Sulistyowati (2004), tercatat bahwa 32% pelajar SMU di Jember, Bangkalan, Malang, dan Madiun memiliki kebiasaan merokok sedangkan penelitian Goldstein (2001) menunjukkan bahwa remaja usia 14 tahun 52% pernah mencoba miras dan 25% telah bermasalah dengan miras (mabuk). Penggunaan narkoba dan obat-obatan terlarang juga sudah menjadi gaya hidup pada remaja belakangan ini. Menurut BNN (2003),lebih dari 2 juta remaja Indonesia ketagihan narkoba. Penelitian Pandu Riono (2003) dalam Daryanto (2004) menunjukkan bahwa 30% siswa SMU di Jakarta pada tahun 2003 pernah mencoba narkoba.
            Penelitian ini penting untuk mengetahui sikap remaja terhadap penyalahgunaan narkoba, bila sikap remaja positif terhadap penyalahgunaan narkoba maka diprediksi perilakunya cenderung terlibat dalam penyalahgunaan narkoba artinya bahwa bila remaja mempunyai sikap positif terhadap penyalahgunaan narkoba dan perilakunya cenderung mendekati keterlibatan terhadap penyalahgunaan narkoba maka harus diwaspadai dan perlu pencegahan sedini mungkin. Upaya pencegahannya perlu dari faktor dalam individu yaitu salah satunya peningkatan harga diri, menurut Afiatin(2010) kompetensi personal remaja yang paling penting dalam menolak bujukan penggunaan narkoba adalah harga diri. Menurut BNN(2009)untuk pencegahan bahaya narkoba pada remaja salahsatunya adalah meningkatkan harga diri. Faktor dari luar individu salah satunya pola asuh orang tua, dalam penilitian ini sesuai dengan survei bahwa 28 siswa dari 30 siswa SMP N 1 Yogyakarta pola asuh orangtuanya menggunakan pola asuh authoritatif. Sesuai dengan penelitian Affandi dkk (2009) bahwa dukungan keluarga dalam artian dukungan orangtua dapat menjadi faktor protektif remaja dalam penyalahgunaan narkoba.

            Permasalahan yang diteliti adalah: (1) Apakah ada hubungan negatif antara harga diri dengan sikap remaja terhadap penyalahgunaan narkoba, semakin tinggi harga diri, semakin negatif sikap remaja terhadap penyalahgunaan narkoba, dan sebaliknya semakinrendah harga diri semakin positif sikap remaja terhadap penyalahgunaan narkoba, (2) Apakah ada hubungan yang negatif antara persepsi pola asuh authoritatif dengan sikap remaja terhadap penyalahgunaan narkoba. Semakin positif persepsi pola asuh orang tua authoritatif maka semakin negatif sikap remaja terhadap penyalahgunaan narkoba dan sebaliknya semakin negatif persepsi pola asuh orang tua authoritatif maka semakin positif sikap remaja terhadap  penyalahgunaan narkoba, dan (3) Apakah ada hubungan antara harga diri dan persepsi pola asuh orang tua authoritatif dengan sikap remaja terhadap penyalahgunaan narkoba.
           
Metodologi penelitian    

            Penulis menggunakan metode penelitian kausal-komparatif, yang menyelidiki kemungkinan hubungan sebab-akibat berdasarkan pengamatan terhadap akibat yang ditimbulkan dan mencari kembali faktor yang mungkin menjadi penyebab melalui data yang telah terhimpun dari beberapa jurnal ilmiah yang bermaterikan tentang penggunaan Napza.

Pembahasan
           
Perubahan Psikologis yang Berhubungan dengan Masa Pubertas

            Bukti terbaru secara umum mendukung beberapa perubahan tingkah laku pada masa remaja. Ada perubahan definisi pada hubungan kekeluargaan sewaktu masa remaja mereka mengalami konflik lebih banyak dengan orangtuanya, khususnya dengan para ibu. Konflik cenderung mereda setelah tercapai masa pubertas karena ada perubahan umum dalam pertalian keluarga dengan para ibu mereka, pada anak laki-laki lebih lambat. Untuk anak wanita, ada juga suatu konflik khusus yang meningkat dengan para ibu dan ada laporan anak wanita menurun hubungannya dengan ayahnya. Telah terbukti hormon sebagai penyebab dari beberapa perubahan tingkah laku yang berkaitan dengan masa remaja normal dan tidak normal. Hormon yang timbul dapat mempengaruhi tingkah laku.

Perubahan Psikologi Menuju Masa Remaja
            Perubahan psikologi dari masa remaja sering digambarkan dengan dua kata badai dan tekanan kenyataannya, sebagian besar masa remaja melewati dekade kedua dari kehidupan dengan kesulitan yang minimal.
A. Remaja Dini (usia 10-13 tahun)
Karakteristik:
• Awitan pubertas, menjadi terlalu memperhatikan tubuh yang sedang berkembang.
• Mulai memperluas radius sosial keluar dari keluarga dan berkonsentrasi pada hubungan dengan teman.
• Kognisi biasanya konkret.
Dampak:
• Remaja mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang normalitas kematangan fisik, sering terlalu memikirkan tahapan-tahapan perkembangan seksual dan bagaimana proses tersebut berkaitan dengan teman-teman sejenis kelamin.
• Kadang-kadang masturbasi
• Mulai membangkitkan rasa tanggung jawab dalam konsultasi dengan orang tua, kunjungan pada
orang tua, kunjungan pada dokter, kontak dengan konselor sekolah.
• Pikiran yang konkret mengharuskan berhubungan dengan situasi-situasi kesehatan secara simple dan eksplisit dengan menggunakan alat bantu visual maupun verbal.



B. Remaja Pertengahan (usia 14-16 tahun)
Karakteristik:
• Perkembangan pubertas sudah lengkap dan
dorongan-dorongan seksual muncul.
• Kelompok sejawat akan mengakibatkan tumbuhnya standar-standar perilaku, meskipun nilai-nilai keluarga masih tetap bertahan.
• Konflik/pertentangan dalam hal kebebasan.
• Kognisi mulai abstrak.
Dampak:
• Mencari kemampuan untuk menarik lawan jenis. Perilaku seksual dan eksperimentasi (dengan lawan
jenis maupun sejenis) mulai muncul, masturbasi meningkat.
• Kelompok sejawat sering membantu/mendukung dalam kegiatan seperti kunjungan ke dokter.
• Pikiran tentang kebebasan mulai bertambah, sementara masih mengharapkan dukungan dan
bimbingan orang tua dapat mendiskusikan dan bernegosiasi tentang perubahan-perubahan peraturan.
• Saat diskusi dan negosiasi remaja sering ambivalen.
• Mulai mempertimbangkan berbagai tanggung jawab dalam banyak hal, tetapi kemampuannya
untuk berintegrasi dengan kehidupan sehar-hari agak jelek karena identitas egonya belum terbentuk
sepenuhnya dan pertumbuhan kognitifnya belum lengkap.

C. Remaja akhir (usia 17-21 tahun)
Karakteristik:
• Kematangan fisik sudah lengkap, body image dan penentuan peran jenis kelamin sudah mapan.
• Hubungan-hubungan sudah tidak lagi narsistik dan terdapat proses memberi dan berbagi.
• Idealistis.
• Emansipasi hampir menetap.
• Perkembangan kognitif lengkap.
• Peran fungsional mulai terlihat nyata.
Dampak:
• Remaja mulai merasa nyaman dengan hubunganhubungan dan keputusan tentang seksualitas dan preteransi. Hubungan individual mulai lebih menonjol dibanding dengan hubungan dengan kelompok.
• Remaja lebih terbuka terhadap pertanyaan spesifik tentang perilaku.
• Idealisme dapat mengakibatkan terjadinya konflik dengan keluarga.
• Dengan mulainya emansipasi, anak muda tersebut mulai lebih memahami akibat-akibat dari tindakannya.
• Sering tertarik dalam diskusi tentang tujuantujuan hidup karena inilah fungsi utama mereka pada tahapan ini.
• Sebagian besar mampu memahami persoalanpersoalan kesehatan.

Perubahan Lingkungan Selama Masa Remaja
            Lingkungan mengalami perubahan besar selama masa remaja dan sering memainkan peran yang berisiko pada status kesehatan masa remaja. Keluarga mengalami perubahan bermakna, dengan kebebasan yang lebih dan pengawasan yang berkurang yang telah diijinkan. Perubahan lingkungan sekolah dari perlindungan sekolah dasar ke status sekolah lanjutan. Populasi remaja mungkin enggan untuk memaksakan kesehatan mereka. Pada dasarnya, para remaja dapat mencari sendiri tentang cerita-cerita seperti penggunaan obat dan seksualitas termasuk penyakit kelamin yang menular dan kehamilan. Remaja sering tidak sadar tentang peraturannya dan tidak mempunyai penghasilan untuk membayar pelayanan.

Merokok
            Merokok merupakan faktor risiko mayor untuk terjadinya penyakit jantung,termasuk serangan jantung dan stroke, dan juga memiliki hubungan kuat untuk terjadinya PJK sehingga dengan berhenti merokok akan mengurangi risiko terjadinya serangan jantung.(45) Merokok sigaret menaikkan risiko serangan jantung sebanyak 2 sampai 3 kali.(46) Sekitar 24 % kematian akibat PJK pada laki-laki dan 11 % pada perempuan disebabkan kebiasaan merokok.(31) Meskipun terdapat penurunan yang progresif proporsi pada populasi yang merokok sejak tahun 1970-an, pada tahun 1996 sebesar 29 % laki-laki dan 28 % perempuan masih merokok. Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah prevalensi kebiasaan merokok yang meningkat pada remaja, terutama pada remaja perempuan. Orang yang tidak merokok dan tinggal bersama perokok (perokok pasif) memiliki peningkatan risiko sebesar 20 – 30 % dibandingkan dengan orang yang tinggal dengan bukan perokok. Risiko terjadinya PJK akibat merokok berkaitan dengan dosis dimana orang yang merokok 20 batang rokok atau lebihdalam sehari memiliki resiko sebesar dua hingga tiga kali lebih tinggi daripada populasi umum untuk mengalami kejadian PJK. Peran rokok dalam patogenesis PJK merupakan hal yang kompleks,
diantaranya :
a. Timbulnya aterosklerosis.
b. Peningkatan trombogenesis dan vasokonstriksi (termasuk spasme arteri
koroner)
c. Peningkatan tekanan darah dan denyut jantung.
d. Provokasi aritmia jantung.
e. Peningkatan kebutuhan oksigen miokard.
f. Penurunan kapasitas pengangkutan oksigen.
g. Risiko terjadinya PJK akibat merokok turun menjadi 50 % setelah satu tahun
berhenti merokok dan menjadi normal setelah 4 tahun berhenti. Rokok juga merupakan faktor risiko utama dalam terjadinya : penyakit saluran nafas,saluran pencernaan, cirrhosis hepatis, kanker kandung kencing (47,48) dan penurunan kesegaran jasmani.(49) Manfaat penghentian kebiasaan merokok lebih sedikit kontroversinya dibandingkan dengan diit dan olah raga. Tiga penelitian secara acak tentang kebiasaan merokok telah dilakukan pada program prevensi primer dan membuktikan adanya penurunan kejadian vaskuler sebanyak 7-47% pada golongan yang mampu menghentikan kebiasaan merokoknya dibandingkan dengan yang tidak.(50) Oleh karena itu saran penghentian kebiasaan merokok merupakan komponen utama pada program rehabilitasi jantung koroner.

            Jenis - Jenis Narkotika, Psikotorpika dan Zat AdiktifLainnya (NAPZA) yang disalahgunakan
1. Ganja.
a. Istilah ganja
Istilah ganja yang sering digunakan untuk menyebutkan ganja adalah cimeng, kanabis, marijuana, pot, tai, sick, gass, gelek, rasta, dope, weed, mary jane, sinsemilla.
b. Pengaruhnya:
1. Merasa rileks,
2. nyaman dan gembira (euphoria),
3. halusinasi (sensasi palsu) dalam penglihatan, penciuman, pencicipan dan pendengaran
c. Bahayanya:
1. Persepsi waktu yang salah,
2. denyut nadi meningkat,
3. jarak pandang menjadi tidak normal,
4. kemampuan berpikir secara logis menurun,
5. daya pikir lambat,
6. pikiran menerawang kealam khayal,
7. menyebabkan cemas, panik bahkan gangguan jiwa,
8. beresiko terkena penyakit kanker paru-paru dan penyakit paru lainnya.

2. Ekstasi.
a. Istilah
Istilah yang sering digunakan untuk menyebutkan ekstasi adalah XTC, ineks, adam, clarity, E, Fantasy pills, cece, cein, kancing, rolls, beans, flipper, hammer.
b. Pengaruh
1. Meningkatkan empati dan keakreaban,
2. menjadi mudah bergaul,
3. gembira berlebihan,
4. gelisah tidak dapat diam dan halusinasi.
c. Bahaya
1. aktivitas mental-emosional meningkat,
2. tubuh kepanasan dan kekurangan cairan, pusing dan lelah (dehidrasi),
3. merusak organ tubuh seperti hati, ginjal dan otak,
4. dapat terjadi kejang jantung dan gagal jantung,
5. menimbulkan depresi, gangguan daya ingat dan gangguan jiwa (psikosis),

3. Sabu-sabu (Methamphetamine).
a. Istilah
Istilah yang sering digunakan untuk menyebutkan sabu-sabu adalah ubas dan tawas.
b. Pengaruh
1. Menimbulkan rasa nyaman dan menyenangkan,
2. gembira,
3. semangat meningkat,
4. rasa lapar dan lelah tertunda,
5. tubuh berkeringat,
c. Bahaya
1. Selera makan hilang,
2. pernapasan menjadi cepat,
3. denyut jantung dan pernapasan meningkat,
4. suhu tubuh meningkat,
5. gelisah dan tidak dapat diam,
6. dapat mengalami serangan panik,
7. stroke atau gagal jantung,
8. kurang gizi dan berat badan turun,
9. depresi,
10. memicu agresivitas kekerasan dan perilaku aneh,
11. kejang-kejang dan kematian.

4. Putaw (Heroin).
a. Istilah
Istilah yang sering digunakan untuk menyebutkan putaw (heroin) adalah putih dan pete.
b. Pengaruh
1. Pupil mata menyempit,
2. timbul rasa mual dan muntah,
3. tenggorokan kering,
4. tidak mampu berkonsentrasi,
5. mengantuk,
6. apatis (acuh tak acuh),
7. sembelit.
c. Bahaya
1. Haid tidak teratur (pada wanita),
2. berat badan turun drastis,
3. kurang gizi,
4. impotensi,
5. kejang-kejang dan kematian,
6. terjadi sakaw seperti kejang otot, menceret, tremor (bergetar tanpa kendali), panic, hidung dan mata berair, menggigil, berkeringat, gelisah, tidak bisa tidur, dan nyeri sekujur badan.

5. Alkohol (Miras).
a. Minuman beralkohol adalah minuman yang mengandung etanol yang berupa bahan psioaktif dan apabila dikonsumsi dapat menyebabkan penurunan kesadaran. Zat sejenis alkohol adalah sebagai berikut:
1. Anggur,
2. bir,
3. bourbon,
4. brendi,
5. brugal,
6. caipirinha,
7. chianti,
8. jaqermeister,
9. mirin,
10. prosecco,
11. rum,
12. sake,
13. sampanye,
14. tuak,
15. vodka,
16. wiski.
b. Pengaruh
1. Minuman beralkohol dapat menimbulkan gangguan mental organik (GMO) seperti gangguan dalam fungsi berpikir, merasakan dan berperilaku,
2. timbulnya GMO itu disebabkan reaksi langsung alkohol pada sel-sel saraf pusat,
3. sifat adiktif alkohol itu, orang yang meminumnya lama-kelamaan tanpa sadar akan menambah takaran/dosis sampai pada dosis keracunan atau mabuk.
c. Bahaya
1. Perubahan fisiologis juga terjadi, seperti cara berjalan yang tidak mantap, muka merah atau mata juling,
2. perubahan psikologis yang dialami oleh konsumen misalnya mudah tersinggung, bicara asal-asalan atau kehilangan konsentrasi,
3. perubahan perilaku, seperti misalnya ingin berkelahi atau melakukan tindakan kekerasan lainnya, tidak mampu menilai realitas, terganggu fungsi sosialnya dan terganggu pekerjaannya,
4. mereka yang sudah ketagihan biasanya mengalami suatu gejala yang disebut sindrom putus alkohol, yaitu rasa takut diberhentikan minum alkohol, sering gemetar dan jantung berdebar-debar, cemas, gelisah, murung dan banyak berhalusinasi.


Hubungan Kebiasaan Olahraga dengan Status Gizi Remaja
            Olahraga merupakan kebiasaan yang sudah berkembang di kalangan remaja. Hasil tabulasi silang pada penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden yang berstatus gizi kurang (88,9%), berstatus gizi normal (52,7%) dan berstatus gizi gemuk (66,7%) memiliki kebiasaan olahraga. Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai p > α yang berarti bahwa tidak terdapat hubungan
antara kebiasaan olahraga dengan status gizi remaja. Di dalam berbagai jenis olahraga baik olahraga dengan gerakan-gerakan yang bersifat konstan seperti jogging, marathon dan bersepeda atau juga pada olahraga yang melibatkan gerakangerakan yang explosif seperti menendang bola atau gerakan smash dalam olahraga tenis atau bulutangkis, jaringan otot hanya akan memperoleh energi dari pemecahan molekul adenosine triphospate atau yang biasa disingkat sebagai ATP. Dengan adanya pemecahan ATP maka akan berpengaruh pula pada keadaan zat gizi yang terdapat di dalam tubuh seseorang. Dalam penelitian ini, tidak terdapat hubungan antara kebiasaan olahraga dengan status gizi remaja. Status gizi remaja tidak hanya dipengaruhi oleh kebiasaan olahraga saja tetapi banyak faktor lain yang memengaruhinya, diantaranya adalah penyakit infeksi, genetik dan hormonal. Antara status gizi dan infeksi terdapat interaksi. Efek langsung dari infeksi sistemik adalah pada katabolisme jaringan. Walaupun hanya terjadi infeksi ringan, sudah akan menimbulkan kehilangan nitrogen. Demikian pula dengan faktor genetik dan hormonal, di mana faktor genetik telah ikut campur dalam menentukan jumlah unsur sel lemak dalam tubuh sedangkan hormon yang berpengaruh pada keadaan gizi seseorang adalah hormon tyroid. Menurunnya hormon tyroid dalam tubuh akibat menurunnya fungsi kelenjar tyroid akan memengaruhi metabolisme di mana kemampuan menggunakan energi akan berkurang sehingga seseorang akan berisiko mengalami gizi lebih. Dengan demikian perlu adanya penelitian lebih lanjut mengenai variabel tersebut.

Hubungan Kebiasaan Merokok dengan Status Gizi Remaja
            Kebiasaan merokok juga termasuk gaya hidup yang tidak bisa dipungkiri dari kehidupan remaja. Hasil tabulasi silang pada penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden yang berstatus gizi kurang mempunyai kebiasaan merokok (66,7%), sedangkan sebagian besar responden yang berstatus gizi normal tidak memiliki kebiasaan merokok, dan seluruh responden yang berstatus gizi gemuk tidak memiliki kebiasaan merokok. Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai p < α yang berarti bahwa terdapat hubungan antara kebiasaan merokok dengan status gizi remaja. Hal ini sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa rokok yang dikonsumsi oleh remaja dapat mengurangi nafsu makan, menyempitkan pembuluh darah jantung dan saluran cerna sehingga mengganggu proses penyerapan (Arisman, 2009). Nafsu makan yangberkurang dan gangguan proses penyerapan zat gizi dapat mengakibatkan gangguan gizi pada remaja. Pada orang yang merokok mempunyai risiko menjadi kurus 2 kali lebih besar dibanding yang tidak merokok (Permaisih, 2004). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kebiasaan merokok berhubungan dengan status gizi remaja sehingga remaja harus menghindari kebiasaan tersebut agar kesehatan dan keadaa gizinya tidak terganggu.

Hubungan Perilaku Konsumsi Minuman Beralkohol dengan Status Gizi Remaja
            Perilaku konsumsi minuman beralkohol jugamerupakan gaya hidup yang sering terjadi di kotabesar. Hasil tabulasi silang pada penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden yang berstatus gizi kurang (55,6%), berstatus gizi normal (83,6%), dan berstatus gizi gemuk (83,3%) tidak memiliki perilaku konsumsi minuman beralkohol. Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai p > α yang berarti bahwa tidak terdapat hubungan antara perilaku konsumsi minuman beralkohol dengan status gizi remaja. Dalam penelitian ini, perilaku konsumsi minuman beralkohol bukan merupakan suatu kebiasaan karena dari 76 responden yang diteliti, hanya 15 orang (19,7%) yang memiliki perilaku konsumsi minuman beralkohol. Walaupun dalam penelitian ini perilaku konsumsi minuman beralkohol tidak berhubungan dengan status gizi remaja tetapi remaja harus menghindari perilaku tersebut karena konsumsi minuman beralkohol dapat mengganggu kesehatan pada pemakaian dalam jangka waktu lama. Menurut Diehl (2004), konsumsi alkohol dalam jumlah banyak juga dapat memperlambat laju penyerapan makanan (Diehl, 2004). Status gizi remaja tidak hanya dipengaruhi  oleh perilaku konsumsi minuman beralkohol saja, tetapi banyak faktor lain yang mempengaruhi seperti penyakit infeksi, hormonal, dan genetik sehingga perlu adanya penelitian lebih lanjut mengenai variabel tersebut.

Hubungan Perilaku Konsumsi Narkoba dengan Status Gizi Remaja
            Perilaku konsumsi narkoba masih sering dijumpai dalam kehidupan remaja. Hasil tabulasi silang pada penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden yang berstatus gizi kurang (77,8%) dan berstatus gizi normal (98,2%) tidak memiliki perilaku konsumsi narkoba, bahkan seluruh responden yang berstatus gizi gemuk tidak ada yang memiliki perilaku konsumsi narkoba. Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai p < α yang berarti bahwa terdapat hubungan antara perilaku konsumsi narkoba dengan status gizi remaja. Menurut BNN (2002), efek lain yang diakibatkan oleh penyalahgunaan obat adalah nafsu makan berkurang sehingga mengakibatkan menurunnya berat badan. Jenis narkoba yang dapat menyebabkan nafsu makan berkurang antara lain: morfin, kokain, methamphetamin, shabu-shabu, dan ecstasy. Dalam penelitian ini, walaupun perilaku konsumsi narkoba berhubungan dengan status gizi remaja tetapi hal tersebut bukan merupakan gaya hidup yang menjadi kebiasaan di lokasi penelitian. Dari 76 responden yang diteliti, hanya terdapat 3 orang (3,9%) yang memiliki perilaku konsumsi narkoba. Sebagian besar responden  sudah menyadari bahwa perilaku konsumsi narkoba merupakan gaya hidup yang tidak sehat dan harus dihindari. Perilaku tersebut selain berhubungan dengan status gizi remaja, juga dapat menyebabkan ketagihan, ketergantungan dan terganggunya fungsi mental.

Pembinaan Keluarga Terhadap Korban
            Pembinaan atau konseling keluarga dapat menjadi salah satu proses yang mendukung pemulihan, tentunya dengan melibatkan kerjasama dengan berbagai pihak. Penanganan ketergantungan Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif lainnya (NAPZA) tidak cukup hanya dengan “menyembuhkan” pengguna secara individual, namun perlu dilakukan perbaikan dalam pola interaksi dan komunikasi seluruh anggota keluarga.
Reilly berpendapat bawha terdapat beberapa karakteristik pada keluarga dengan pengguna Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif lainnya (NAPZA):
a. Negativism. Komunikasi dalam keluarga cenderung negatif, diwarnai oleh keluhan, kritik dan ekspresi ketidakpuasan. Mood dalam keluarga biasanya negatif sehingga tingkah laku positif tidak mendapat perhatian. Jadi satu-satunya cara untuk memperoleh perhatian orang tua adalah dengan bertingkah laku negatif.
b. Parental inconsistency. Biasanya penerapan peraturan dalam keluarga tidak konsisten dan struktur keluarga tidak adekuat. Tidak ada batas yang jelas antara anak dengan orangtua, atau sebaliknya orangtua sangat otoriter dan dominan. Akibatnya tingkah laku negatif pada anak semakin memburuk karena tidak ada konsekuensi yang jelas.
c. Parental denial. Seringkali orangtua tidak mau mengakui seriusnya masalah anak yang menggunakan Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif lainnya (NAPZA). walaupun akhirnya memasukkan anak ke tempat rehabilitasi, tetapi dengan mudah pula membiarkan anak keluar sebelum program selesai.
d. Miscarried expression of anger. Penggunaan Narkotika, Psikotropika dan
Zat Adiktif lainnya (NAPZA) dapat merupakan cara untuk mengatasi kemarahan akibat kondisi keluarga yang penuh konflik atau perasaan diabaikan pada anak.
e. Self medication. Anak menggunakan Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif lainnya (NAPZA) karena melihat orangtua terbiasa menggunakan alkohol atau obat-obatan untuk memperoleh dan mengatasi perasaan cemas berlebihan.
f. Unrealistic parental expectations. Bila orangtua menuntut anak terlalu tinggi dan menimbulkan kecemasan atau perasaan marah, maka anak dapat menggunakan Narkotika, Psikotopika dan Zat Adiktif lainnya (NAPZA) untuk menghindari tuntutan tersebut. Kemungkinan lain, anak berusaha keras memenuhi tuntutan orangtua sampai akhirnya menyadari bahwa sebaik apapun hasil yang dicapai, orangtua tetap tidak puas. Perasaan frustasi dapat mengarah pada penggunaan Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif lainnya (NAPZA).

KESIMPULAN
1.      Hasil penelitian ini menunjukkan adanya hubungan negatif antara harga diri dengan sikap remaja terhadap penyalahgunaan narkoba. Artinya makin tinggi harga diri maka semakin negatif sikap remaja terhadap penyalahgunaan narkoba.
2.      Hubungan antara gaya hidup yang meliputi kebiasaan merokok dan perilaku konsumsi narkoba dengan status gizi remaja. Sebaliknya tidak terdapat hubungan antara gaya hidup yang meliputi kebiasaan olahraga dan perilaku konsumsi minuman beralkohol dengan status gizi remaja. Hal ini menunjukkan bahwa tidak semua gaya hidup remaja berhubungan dengan status gizi. Status gizi remaja bisa dipengaruhi oleh faktor lain, diantaranya adalah penyakit infeksi, genetik, dan hormonal.
3.      Adanya hubungan negatif antara persepsi pola asuh orang tua authoritatif dengan sikap remaja terhadap penyalahgunaan narkoba. Artinya semakin tinggi persepsi pola asuh orang tua authoritatif semakin negatif sikap remaja terhadap penyalahgunaan narkoba.
4.      Pembinaan atau konseling keluarga dapat menjadi salah satu proses yang mendukung pemulihan, tentunya dengan melibatkan kerjasama dengan berbagai pihak. Penanganan ketergantungan Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif lainnya (NAPZA) tidak cukup hanya dengan “menyembuhkan” pengguna secara individual, namun perlu dilakukan perbaikan dalam pola interaksi dan komunikasi seluruh anggota keluarga. Oleh karena itu, komunkikasi antara anggota keluarga menjadi faktor penting dalam proses pembinaan. Adapun hal-hal yang sebaiknya dilakukan, apabila salah satu atau lebih dari anggota keluarga menyalahgunakan Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif Lainnya
5.      Penggunaan Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif lainnya (NAPZA) sangat berbahaya. Jadi sebaiknya harus dijauhi, karena akibatnya dapat merugikan diri sendiri, orang lain dan bahkan negara. Di samping itu pula, penggunaan Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif lainnya (NAPZA) selalu dimonitor oleh pemerintah sehingga ancaman hukumannya tergolong berat. Oleh karena itu, keluarga khususnya orang tua dapat menjaga, memelihara dan mendidik anak demi masa depan

DAFTAR PUSTAKA

Iftita Rochman1, Merryana Adriani2, HUBUNGAN GAYA HIDUP DENGAN STATUS GIZI REMAJA Media Gizi Indonesia, Vol. 9, No. 1 Januari–Juni 2013: hlm. 36–41

             Boerhan Hidajat, Roedi Irawan, Nurul Hidayati,   NUTRISI DAN PERILAKU              (NUTRITION AND BEHAVIOR)

            Trisakti dan Kamsih Astuti, HUBUNGAN ANTARA HARGA DIRI DAN                              PERSEPSI POLA ASUH ORANG TUA YANG AUTHORITATIF                               DENGAN             SIKAP REMAJA TERHADAP PENYALAHGUNAAN              NARKOBA Jurnal   Ilmiah Guru “COPE”, No. 02/Tahun                                           XVIII/November 2014


            Rendy Tumimbang2,,   PEMBINAAN KORBAN NARKOTIKA,                                              PSIKOTROPIKA DAN ZAT ADIKTIF LAINNYA (NAPZA) DI                                  SULAWESI UTARA1 Lex Crimen Vol. II/No. 3/Juli/2013

            Santoso Soeroso, Masalah Kesehatan Remaja, Sari Pediatri, Vol. 3, No. 3,                                    Desember 2001: 190 - 198