NUTRISI
MANUSIA DAN KAITANNYA DENGAN PENGGUNAAN NAPZA(diluar yang aditif dalam makanan
dan minuman):HEROIN,KOKAIN,SABU SABU,MIRAS,Dsb.
Diajukan
untuk memenuhi tugas biokimia nutrisi oleh
Prof.Dr.Ramlan
Silaban,M.Si
YUNI ANDRIANI SIREGAR
Nim.4141131055
Kimia dik b 2014
Jurusan kimia
Fakultas matematika dan ilmu pengetahuan alam
2015
Remaja dan pola asuh orang tua terhadap
penyalahgunaan NAPZA
Abstrak
Kini
lalu lintas perdagangan narkoba dunia menjadikan Indonesia sebagai bagian dari
jalur perdagangan narkoba internasional dengan melalui dua jalur utama yang
dikenal dengan Segitiga Emas (Golden Triangle) yang meliputi kawasan
Myanmar-Thailand-Laos dan Bulan Sabit Emas (Golden Cresecnt) yakni,
Iran-Pakistan-Afganistan.
Usia remaja merupakan suatu tahapan usia yang penting karena merupakan masa
transisi dari usia kanak-kanak menuju dewasa. Era reformasi memberikan pengaruh
berupa perubahan perilaku dan gaya hidup remaja, terutama di wilayah perkotaan.
Perubahan perilaku dan gaya hidup ini akan mempengaruhi status gizi remaja.
Tujuan dari penelitian ini adalah mempelajari hubungan gaya hidup dengan status
gizi remaja. Gaya hidup yang diteliti meliputi kebiasaan olahraga, merokok,
mengonsumsi obat-obatan dan minuman beralkohol. Masalah sosial budaya dan sekolah yang ditemukan adalah sulit belajar,
membolos, kenakalan remaja (“tawuran”), pergeseran nilai budaya. Sedangkan
masalah gangguan emosional yang diidentifikasikan kurang percaya diri, stres di
samping terdapat pula masalah penyalahgunaan obat dan merokok. Dalam masalah
keluarga telah dicatat bahwa kurangnya fungsi peranan orangtua, konflik peran,
perbedaan persepsi kasih saying dan kurangnya serta kesulitan komunikasi telah
menyebabkan disfungsi keluarga
Latar belakang
Pada
era 2015,Napza erat dengan kehidupan masyarakat..Bahkan sekarang Napza bukan
hanya ada untuk orang dewasa,akan tetapi yang ditakutkan remaja akan terhasut
dengan barang haram ini.Napza memang ada sisi baiknya yang digunakan dalam
bidang kedokteran yang akan digunakan dalam hal hal kesehatan,seperti operasi
yang akan digunakan untuk menghilangkan rasa sakit ketika akan di operasi,akan
tetapi ketika Napza disalahgunakan dengan pihak yang tidak sesuai akan
memberikan hasil yang buruk dan
mengancam masa depannya.Terutama halnya jika Napza ini akan digunakan oleh remaja saat ini,maka
akan membuat masa depan suatu bangsa akan terancam.
Oleh karena itulah penulis
melatar belakangi pembuatan artikel ini,karena mengingat akan zaman globalisasi
yang sangat modern dan serba mudah di dapat untuk hal hal baik bersifat baik
atau buruk.
Pendahuluan
Kelompok
umur remaja merupakan fase pertumbuhan
yang pesat selain pada masa balita,sehingga wajar kalau pada masa ini
dibutuhkanzat gizi yang relatif lebih besar jumlahnya.Kebanyakan orang berpikir
bahwa remajamempunyai fleksibilitas dan vitalitas yang tinggi sehingga
mempunyai sedikit masalah kesehatan dan menganggap mereka lebih sehat dari
kelompok usia yang lain. Jika kita teliti lebih jauh ternyata remaja mempunyai
masalah kesehatan yang sangat kompleks. Masalah gizi pada remaja akan berdampak
negatif pada tingkat kesehatan masyarakat misalnya penurunan konsentrasi
belajar, risiko melahirkan bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) serta
penurunan kesegaran jasmani (Sediaoetama, 2008).
Pada fase remaja, fisik mereka terus
berkembang. Demikian pula dengan aspek sosial maupun psikologisnya. Perubahan
ini membuat seorang remaja mengalami banyak ragam gaya hidup, perilaku, dan
tidak terkecuali pengalaman dalam menentukan makanan yang akan dikonsumsi. Hal
ini yang akan berpengaruh pada keadaan gizi seorang remaja. Perilaku yang salah
banyak dijumpai pada remaja, adanya perubahan emosional, sosial dan intelektual
normal terjadi karena mereka menginginkan kebebasan dan mencoba hal-hal baru
untuk menemukan jati diri. Salah satu perilaku yang salah adalah adanya
kecenderungan untuk mengikuti pola dan gaya hidup modern (Khomsan, 2002).
Pada masa remaja seorang anak dalam suasana
atau keadaan peka karena kehidupan emosionalnya yang sering berganti-ganti,
rasa ingin tahu yang lebih dalam lagi terhadap sesuatu yang baru kadang kala
membawa mereka kepada hal-hal yang bersifat negatif. Para remaja pada usia ini
merupakan masa peralihan dari kanak-kanak menuju kedewasaan masih memiliki
kemampuan yang sangat rendah untuk menolak ajakan negatif dari temannya,
sehingga mereka kurang mampu menghindari ajakan tersebut apalagi keinginan akan
mencoba hal-hal yang baru. Remaja berada dalam tahap pencarian identitas
sehingga keingintahuan mereka sangat tinggi apalagi iming-iming dari teman
mereka bahwa Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif lainnya (NAPZA) itu nikmat
dan menjadi lambing sebagai anak gaul ditambah lagi dengan lingkungan pergaulan
di kalangan anak remaja yang cenderung tidak baik. Penanggulangan Narkotika,
Psikotropika dan Zat Adiktif lainnya (NAPZA) seringkali hanya sebatas bagaimana
pencegahan, pemberantasan pengedar dan penangkapan para pengguna.
Banyak penelitian yang telah
dilakukan untuk meneliti perilaku gaya hidup pada remaja. Berdasarkan
penelitian Martini dan Sulistyowati (2004), tercatat bahwa 32% pelajar SMU di
Jember, Bangkalan, Malang, dan Madiun memiliki kebiasaan merokok sedangkan
penelitian Goldstein (2001) menunjukkan bahwa remaja usia 14 tahun 52% pernah
mencoba miras dan 25% telah bermasalah dengan miras (mabuk). Penggunaan narkoba
dan obat-obatan terlarang juga sudah menjadi gaya hidup pada remaja belakangan
ini. Menurut BNN (2003),lebih dari 2 juta remaja Indonesia ketagihan narkoba.
Penelitian Pandu Riono (2003) dalam Daryanto (2004) menunjukkan bahwa 30% siswa
SMU di Jakarta pada tahun 2003 pernah mencoba narkoba.
Penelitian ini penting untuk
mengetahui sikap remaja terhadap penyalahgunaan narkoba, bila sikap remaja
positif terhadap penyalahgunaan narkoba maka diprediksi perilakunya cenderung
terlibat dalam penyalahgunaan narkoba artinya bahwa bila remaja mempunyai sikap
positif terhadap penyalahgunaan narkoba dan perilakunya cenderung mendekati
keterlibatan terhadap penyalahgunaan narkoba maka harus diwaspadai dan perlu
pencegahan sedini mungkin. Upaya pencegahannya perlu dari faktor dalam individu
yaitu salah satunya peningkatan harga diri, menurut Afiatin(2010) kompetensi
personal remaja yang paling penting dalam menolak bujukan penggunaan narkoba
adalah harga diri. Menurut BNN(2009)untuk pencegahan bahaya narkoba pada remaja
salahsatunya adalah meningkatkan harga diri. Faktor dari luar individu salah
satunya pola asuh orang tua, dalam penilitian ini sesuai dengan survei bahwa 28
siswa dari 30 siswa SMP N 1 Yogyakarta pola asuh orangtuanya menggunakan pola
asuh authoritatif. Sesuai dengan penelitian Affandi dkk (2009) bahwa dukungan
keluarga dalam artian dukungan orangtua dapat menjadi faktor protektif remaja
dalam penyalahgunaan narkoba.
Permasalahan yang diteliti adalah:
(1) Apakah ada hubungan negatif antara harga diri dengan sikap remaja terhadap
penyalahgunaan narkoba, semakin tinggi harga diri, semakin negatif sikap remaja
terhadap penyalahgunaan narkoba, dan sebaliknya semakinrendah harga diri
semakin positif sikap remaja terhadap penyalahgunaan narkoba, (2) Apakah ada
hubungan yang negatif antara persepsi pola asuh authoritatif dengan sikap
remaja terhadap penyalahgunaan narkoba. Semakin positif persepsi pola asuh
orang tua authoritatif maka semakin negatif sikap remaja terhadap
penyalahgunaan narkoba dan sebaliknya semakin negatif persepsi pola asuh orang
tua authoritatif maka semakin positif sikap remaja terhadap penyalahgunaan narkoba, dan (3) Apakah ada
hubungan antara harga diri dan persepsi pola asuh orang tua authoritatif dengan
sikap remaja terhadap penyalahgunaan narkoba.
Metodologi penelitian
Penulis
menggunakan metode penelitian kausal-komparatif, yang menyelidiki kemungkinan
hubungan sebab-akibat berdasarkan pengamatan terhadap akibat yang ditimbulkan
dan mencari kembali faktor yang mungkin menjadi penyebab melalui data yang
telah terhimpun dari beberapa jurnal ilmiah yang bermaterikan tentang
penggunaan Napza.
Pembahasan
Perubahan
Psikologis yang Berhubungan dengan Masa Pubertas
Bukti terbaru secara umum mendukung
beberapa perubahan tingkah laku pada masa remaja. Ada perubahan definisi pada
hubungan kekeluargaan sewaktu masa remaja mereka mengalami konflik lebih banyak
dengan orangtuanya, khususnya dengan para ibu. Konflik cenderung mereda setelah
tercapai masa pubertas karena ada perubahan umum dalam pertalian keluarga
dengan para ibu mereka, pada anak laki-laki lebih lambat. Untuk anak wanita,
ada juga suatu konflik khusus yang meningkat dengan para ibu dan ada laporan
anak wanita menurun hubungannya dengan ayahnya. Telah terbukti hormon sebagai
penyebab dari beberapa perubahan tingkah laku yang berkaitan dengan masa remaja
normal dan tidak normal. Hormon yang timbul dapat mempengaruhi tingkah laku.
Perubahan Psikologi
Menuju Masa Remaja
Perubahan psikologi dari masa remaja
sering digambarkan dengan dua kata badai dan tekanan kenyataannya, sebagian
besar masa remaja melewati dekade kedua dari kehidupan dengan kesulitan yang
minimal.
A. Remaja Dini
(usia 10-13 tahun)
Karakteristik:
• Awitan
pubertas, menjadi terlalu memperhatikan tubuh yang sedang berkembang.
• Mulai
memperluas radius sosial keluar dari keluarga dan berkonsentrasi pada hubungan
dengan teman.
• Kognisi
biasanya konkret.
Dampak:
• Remaja
mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang normalitas kematangan fisik, sering
terlalu memikirkan tahapan-tahapan perkembangan seksual dan bagaimana proses
tersebut berkaitan dengan teman-teman sejenis kelamin.
• Kadang-kadang
masturbasi
• Mulai
membangkitkan rasa tanggung jawab dalam konsultasi dengan orang tua, kunjungan
pada
orang tua,
kunjungan pada dokter, kontak dengan konselor sekolah.
• Pikiran yang
konkret mengharuskan berhubungan dengan situasi-situasi kesehatan secara simple
dan eksplisit dengan menggunakan alat bantu visual maupun verbal.
B. Remaja
Pertengahan (usia 14-16 tahun)
Karakteristik:
• Perkembangan
pubertas sudah lengkap dan
dorongan-dorongan
seksual muncul.
• Kelompok
sejawat akan mengakibatkan tumbuhnya standar-standar perilaku, meskipun nilai-nilai
keluarga masih tetap bertahan.
•
Konflik/pertentangan dalam hal kebebasan.
• Kognisi mulai
abstrak.
Dampak:
• Mencari
kemampuan untuk menarik lawan jenis. Perilaku seksual dan eksperimentasi
(dengan lawan
jenis maupun
sejenis) mulai muncul, masturbasi meningkat.
• Kelompok
sejawat sering membantu/mendukung dalam kegiatan seperti kunjungan ke dokter.
• Pikiran
tentang kebebasan mulai bertambah, sementara masih mengharapkan dukungan dan
bimbingan orang
tua dapat mendiskusikan dan bernegosiasi tentang perubahan-perubahan peraturan.
• Saat diskusi
dan negosiasi remaja sering ambivalen.
• Mulai
mempertimbangkan berbagai tanggung jawab dalam banyak hal, tetapi kemampuannya
untuk
berintegrasi dengan kehidupan sehar-hari agak jelek karena identitas egonya
belum terbentuk
sepenuhnya dan
pertumbuhan kognitifnya belum lengkap.
C. Remaja akhir
(usia 17-21 tahun)
Karakteristik:
• Kematangan
fisik sudah lengkap, body image dan penentuan peran jenis kelamin sudah
mapan.
•
Hubungan-hubungan sudah tidak lagi narsistik dan terdapat proses memberi dan
berbagi.
• Idealistis.
• Emansipasi
hampir menetap.
• Perkembangan
kognitif lengkap.
• Peran
fungsional mulai terlihat nyata.
Dampak:
• Remaja mulai
merasa nyaman dengan hubunganhubungan dan keputusan tentang seksualitas dan
preteransi. Hubungan individual mulai lebih menonjol dibanding dengan hubungan
dengan kelompok.
• Remaja lebih
terbuka terhadap pertanyaan spesifik tentang perilaku.
• Idealisme
dapat mengakibatkan terjadinya konflik dengan keluarga.
• Dengan mulainya
emansipasi, anak muda tersebut mulai lebih memahami akibat-akibat dari
tindakannya.
• Sering
tertarik dalam diskusi tentang tujuantujuan hidup karena inilah fungsi utama
mereka pada tahapan ini.
• Sebagian besar
mampu memahami persoalanpersoalan kesehatan.
Perubahan
Lingkungan Selama Masa Remaja
Lingkungan mengalami perubahan besar
selama masa remaja dan sering memainkan peran yang berisiko pada status
kesehatan masa remaja. Keluarga mengalami perubahan bermakna, dengan kebebasan
yang lebih dan pengawasan yang berkurang yang telah diijinkan. Perubahan
lingkungan sekolah dari perlindungan sekolah dasar ke status sekolah lanjutan.
Populasi remaja mungkin enggan untuk memaksakan kesehatan mereka. Pada
dasarnya, para remaja dapat mencari sendiri tentang cerita-cerita seperti
penggunaan obat dan seksualitas termasuk penyakit kelamin yang menular
dan kehamilan. Remaja sering tidak sadar tentang peraturannya dan tidak
mempunyai penghasilan untuk membayar pelayanan.
Merokok
Merokok merupakan faktor risiko
mayor untuk terjadinya penyakit jantung,termasuk serangan jantung dan stroke,
dan juga memiliki hubungan kuat untuk terjadinya PJK sehingga dengan berhenti
merokok akan mengurangi risiko terjadinya serangan jantung.(45) Merokok sigaret
menaikkan risiko serangan jantung sebanyak 2 sampai 3 kali.(46) Sekitar 24 %
kematian akibat PJK pada laki-laki dan 11 % pada perempuan disebabkan kebiasaan
merokok.(31) Meskipun terdapat penurunan yang progresif proporsi pada populasi
yang merokok sejak tahun 1970-an, pada tahun 1996 sebesar 29 % laki-laki dan 28
% perempuan masih merokok. Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah
prevalensi kebiasaan merokok yang meningkat pada remaja, terutama pada remaja perempuan.
Orang yang tidak merokok dan tinggal bersama perokok (perokok pasif) memiliki
peningkatan risiko sebesar 20 – 30 % dibandingkan dengan orang yang tinggal
dengan bukan perokok. Risiko terjadinya PJK akibat merokok berkaitan dengan
dosis dimana orang yang merokok 20 batang rokok atau lebihdalam sehari memiliki
resiko sebesar dua hingga tiga kali lebih tinggi daripada populasi umum untuk
mengalami kejadian PJK. Peran rokok dalam patogenesis PJK merupakan hal yang
kompleks,
diantaranya :
a. Timbulnya aterosklerosis.
b. Peningkatan
trombogenesis dan vasokonstriksi (termasuk spasme arteri
koroner)
c. Peningkatan
tekanan darah dan denyut jantung.
d. Provokasi
aritmia jantung.
e. Peningkatan
kebutuhan oksigen miokard.
f. Penurunan
kapasitas pengangkutan oksigen.
g. Risiko
terjadinya PJK akibat merokok turun menjadi 50 % setelah satu tahun
berhenti merokok
dan menjadi normal setelah 4 tahun berhenti. Rokok juga merupakan faktor risiko
utama dalam terjadinya : penyakit saluran nafas,saluran pencernaan, cirrhosis
hepatis, kanker kandung kencing (47,48) dan penurunan kesegaran
jasmani.(49) Manfaat penghentian kebiasaan merokok lebih sedikit kontroversinya
dibandingkan dengan diit dan olah raga. Tiga penelitian secara acak tentang
kebiasaan merokok telah dilakukan pada program prevensi primer dan membuktikan
adanya penurunan kejadian vaskuler sebanyak 7-47% pada golongan yang mampu
menghentikan kebiasaan merokoknya dibandingkan dengan yang tidak.(50) Oleh
karena itu saran penghentian kebiasaan merokok merupakan komponen utama pada
program rehabilitasi jantung koroner.
Jenis
- Jenis Narkotika, Psikotorpika dan Zat AdiktifLainnya (NAPZA) yang
disalahgunakan
1. Ganja.
a. Istilah ganja
Istilah ganja yang sering digunakan
untuk menyebutkan ganja adalah cimeng, kanabis, marijuana, pot, tai, sick,
gass, gelek, rasta, dope, weed, mary jane, sinsemilla.
b. Pengaruhnya:
1. Merasa
rileks,
2. nyaman dan
gembira (euphoria),
3. halusinasi
(sensasi palsu) dalam penglihatan, penciuman, pencicipan dan pendengaran
c. Bahayanya:
1.
Persepsi waktu yang salah,
2.
denyut nadi meningkat,
3.
jarak pandang menjadi tidak normal,
4.
kemampuan berpikir secara logis menurun,
5.
daya pikir lambat,
6.
pikiran menerawang kealam khayal,
7.
menyebabkan cemas, panik bahkan gangguan jiwa,
8.
beresiko terkena penyakit kanker paru-paru dan penyakit paru lainnya.
2. Ekstasi.
a. Istilah
Istilah yang sering
digunakan untuk menyebutkan ekstasi adalah XTC, ineks, adam, clarity, E,
Fantasy pills, cece, cein, kancing, rolls, beans, flipper, hammer.
b.
Pengaruh
1.
Meningkatkan empati dan keakreaban,
2.
menjadi mudah bergaul,
3.
gembira berlebihan,
4.
gelisah tidak dapat diam dan halusinasi.
c.
Bahaya
1.
aktivitas mental-emosional meningkat,
2.
tubuh kepanasan dan kekurangan cairan, pusing dan lelah (dehidrasi),
3.
merusak organ tubuh seperti hati, ginjal dan otak,
4.
dapat terjadi kejang jantung dan gagal jantung,
5.
menimbulkan depresi, gangguan daya ingat dan gangguan jiwa (psikosis),
3. Sabu-sabu (Methamphetamine).
a. Istilah
Istilah yang sering
digunakan untuk menyebutkan sabu-sabu adalah ubas dan tawas.
b. Pengaruh
1. Menimbulkan rasa
nyaman dan menyenangkan,
2. gembira,
3. semangat meningkat,
4. rasa lapar dan lelah
tertunda,
5. tubuh berkeringat,
c. Bahaya
1. Selera makan hilang,
2. pernapasan menjadi
cepat,
3. denyut jantung dan
pernapasan meningkat,
4. suhu tubuh
meningkat,
5. gelisah dan tidak
dapat diam,
6. dapat mengalami
serangan panik,
7. stroke atau gagal
jantung,
8. kurang gizi dan
berat badan turun,
9. depresi,
10. memicu agresivitas
kekerasan dan perilaku aneh,
11. kejang-kejang dan
kematian.
4. Putaw (Heroin).
a. Istilah
Istilah yang sering
digunakan untuk menyebutkan putaw (heroin) adalah putih dan pete.
b.
Pengaruh
1.
Pupil mata menyempit,
2.
timbul rasa mual dan muntah,
3.
tenggorokan kering,
4.
tidak mampu berkonsentrasi,
5.
mengantuk,
6.
apatis (acuh tak acuh),
7.
sembelit.
c.
Bahaya
1.
Haid tidak teratur (pada wanita),
2.
berat badan turun drastis,
3.
kurang gizi,
4.
impotensi,
5.
kejang-kejang dan kematian,
6. terjadi sakaw
seperti kejang otot, menceret, tremor (bergetar tanpa kendali), panic, hidung
dan mata berair, menggigil, berkeringat, gelisah, tidak bisa tidur, dan nyeri
sekujur badan.
5. Alkohol (Miras).
a.
Minuman beralkohol adalah minuman yang mengandung etanol yang berupa bahan
psioaktif dan apabila dikonsumsi dapat menyebabkan penurunan kesadaran. Zat
sejenis alkohol adalah sebagai berikut:
1.
Anggur,
2.
bir,
3.
bourbon,
4.
brendi,
5.
brugal,
6.
caipirinha,
7.
chianti,
8.
jaqermeister,
9.
mirin,
10.
prosecco,
11.
rum,
12.
sake,
13.
sampanye,
14.
tuak,
15.
vodka,
16.
wiski.
b.
Pengaruh
1.
Minuman beralkohol dapat menimbulkan gangguan mental organik (GMO) seperti
gangguan dalam fungsi berpikir, merasakan dan berperilaku,
2.
timbulnya GMO itu disebabkan reaksi langsung alkohol pada sel-sel saraf pusat,
3.
sifat adiktif alkohol itu, orang yang meminumnya lama-kelamaan tanpa sadar akan
menambah takaran/dosis sampai pada dosis keracunan atau mabuk.
c.
Bahaya
1.
Perubahan fisiologis juga terjadi, seperti cara berjalan yang tidak mantap,
muka merah atau mata juling,
2.
perubahan psikologis yang dialami oleh konsumen misalnya mudah tersinggung,
bicara asal-asalan atau kehilangan konsentrasi,
3.
perubahan perilaku, seperti misalnya ingin berkelahi atau melakukan tindakan
kekerasan lainnya, tidak mampu menilai realitas, terganggu fungsi sosialnya dan
terganggu pekerjaannya,
4.
mereka yang sudah ketagihan biasanya mengalami suatu gejala yang disebut
sindrom putus alkohol, yaitu rasa takut diberhentikan minum alkohol, sering
gemetar dan jantung berdebar-debar, cemas, gelisah, murung dan banyak berhalusinasi.
Hubungan
Kebiasaan Olahraga dengan Status Gizi Remaja
Olahraga merupakan kebiasaan yang
sudah berkembang di kalangan remaja. Hasil tabulasi silang pada penelitian ini
menunjukkan bahwa sebagian besar responden yang berstatus gizi kurang (88,9%),
berstatus gizi normal (52,7%) dan berstatus gizi gemuk (66,7%) memiliki
kebiasaan olahraga. Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai p > α yang berarti bahwa tidak terdapat
hubungan
antara kebiasaan
olahraga dengan status gizi remaja. Di dalam berbagai jenis olahraga baik
olahraga dengan gerakan-gerakan yang bersifat konstan seperti jogging, marathon
dan bersepeda atau juga pada olahraga yang melibatkan gerakangerakan yang
explosif seperti menendang bola atau gerakan smash dalam olahraga tenis atau bulutangkis,
jaringan otot hanya akan memperoleh energi dari pemecahan molekul adenosine
triphospate atau yang biasa disingkat sebagai ATP. Dengan adanya pemecahan ATP
maka akan berpengaruh pula pada keadaan zat gizi yang terdapat di dalam tubuh
seseorang. Dalam penelitian ini, tidak terdapat hubungan antara kebiasaan
olahraga dengan status gizi remaja. Status gizi remaja tidak hanya dipengaruhi
oleh kebiasaan olahraga saja tetapi banyak faktor lain yang memengaruhinya,
diantaranya adalah penyakit infeksi, genetik dan hormonal. Antara status gizi
dan infeksi terdapat interaksi. Efek langsung dari infeksi sistemik adalah pada
katabolisme jaringan. Walaupun hanya terjadi infeksi ringan, sudah akan
menimbulkan kehilangan nitrogen. Demikian pula dengan faktor genetik dan
hormonal, di mana faktor genetik telah ikut campur dalam menentukan jumlah
unsur sel lemak dalam tubuh sedangkan hormon yang berpengaruh pada keadaan gizi
seseorang adalah hormon tyroid. Menurunnya hormon tyroid dalam tubuh akibat
menurunnya fungsi kelenjar tyroid akan memengaruhi metabolisme di mana
kemampuan menggunakan energi akan berkurang sehingga seseorang akan berisiko
mengalami gizi lebih. Dengan demikian perlu adanya penelitian lebih lanjut
mengenai variabel tersebut.
Hubungan
Kebiasaan Merokok dengan Status Gizi Remaja
Kebiasaan merokok juga termasuk gaya
hidup yang tidak bisa dipungkiri dari kehidupan remaja. Hasil tabulasi silang
pada penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden yang berstatus
gizi kurang mempunyai kebiasaan merokok (66,7%), sedangkan sebagian besar
responden yang berstatus gizi normal tidak memiliki kebiasaan merokok, dan
seluruh responden yang berstatus gizi gemuk tidak memiliki kebiasaan merokok.
Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai p < α
yang
berarti bahwa terdapat hubungan antara kebiasaan merokok dengan status gizi
remaja. Hal ini sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa rokok yang dikonsumsi
oleh remaja dapat mengurangi nafsu makan, menyempitkan pembuluh darah jantung
dan saluran cerna sehingga mengganggu proses penyerapan (Arisman, 2009). Nafsu
makan yangberkurang dan gangguan proses penyerapan zat gizi dapat mengakibatkan
gangguan gizi pada remaja. Pada orang yang merokok mempunyai risiko menjadi
kurus 2 kali lebih besar dibanding yang tidak merokok (Permaisih, 2004). Dengan
demikian dapat disimpulkan bahwa kebiasaan merokok berhubungan dengan status
gizi remaja sehingga remaja harus menghindari kebiasaan tersebut agar kesehatan
dan keadaa gizinya tidak terganggu.
Hubungan
Perilaku Konsumsi Minuman Beralkohol dengan Status Gizi Remaja
Perilaku konsumsi minuman beralkohol
jugamerupakan gaya hidup yang sering terjadi di kotabesar. Hasil tabulasi
silang pada penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden yang
berstatus gizi kurang (55,6%), berstatus gizi normal (83,6%), dan berstatus
gizi gemuk (83,3%) tidak memiliki perilaku konsumsi minuman beralkohol. Hasil
analisis menunjukkan bahwa nilai p > α yang berarti bahwa tidak terdapat
hubungan antara perilaku konsumsi minuman beralkohol dengan status gizi remaja.
Dalam penelitian ini, perilaku konsumsi minuman beralkohol bukan merupakan
suatu kebiasaan karena dari 76 responden yang diteliti, hanya 15 orang (19,7%)
yang memiliki perilaku konsumsi minuman beralkohol. Walaupun dalam penelitian
ini perilaku konsumsi minuman beralkohol tidak berhubungan dengan status gizi
remaja tetapi remaja harus menghindari perilaku tersebut karena konsumsi
minuman beralkohol dapat mengganggu kesehatan pada pemakaian dalam jangka waktu
lama. Menurut Diehl (2004), konsumsi alkohol dalam jumlah banyak juga dapat
memperlambat laju penyerapan makanan (Diehl, 2004). Status gizi remaja tidak
hanya dipengaruhi oleh perilaku konsumsi
minuman beralkohol saja, tetapi banyak faktor lain yang mempengaruhi seperti
penyakit infeksi, hormonal, dan genetik sehingga perlu adanya penelitian lebih
lanjut mengenai variabel tersebut.
Hubungan
Perilaku Konsumsi Narkoba dengan Status Gizi Remaja
Perilaku konsumsi narkoba masih
sering dijumpai dalam kehidupan remaja. Hasil tabulasi silang pada penelitian
ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden yang berstatus gizi kurang
(77,8%) dan berstatus gizi normal (98,2%) tidak memiliki perilaku konsumsi
narkoba, bahkan seluruh responden yang berstatus gizi gemuk tidak ada yang
memiliki perilaku konsumsi narkoba. Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai p
< α yang berarti
bahwa terdapat hubungan antara perilaku konsumsi narkoba dengan status gizi
remaja. Menurut BNN (2002), efek lain yang diakibatkan oleh penyalahgunaan obat
adalah nafsu makan berkurang sehingga mengakibatkan menurunnya berat badan.
Jenis narkoba yang dapat menyebabkan nafsu makan berkurang antara lain: morfin,
kokain, methamphetamin, shabu-shabu, dan ecstasy. Dalam penelitian ini,
walaupun perilaku konsumsi narkoba berhubungan dengan status gizi remaja tetapi
hal tersebut bukan merupakan gaya hidup yang menjadi kebiasaan di lokasi
penelitian. Dari 76 responden yang diteliti, hanya terdapat 3 orang (3,9%) yang
memiliki perilaku konsumsi narkoba. Sebagian besar responden sudah menyadari bahwa perilaku konsumsi
narkoba merupakan gaya hidup yang tidak sehat dan harus dihindari. Perilaku
tersebut selain berhubungan dengan status gizi remaja, juga dapat menyebabkan
ketagihan, ketergantungan dan terganggunya fungsi mental.
Pembinaan Keluarga Terhadap Korban
Pembinaan
atau konseling keluarga dapat menjadi salah satu proses yang mendukung
pemulihan, tentunya dengan melibatkan kerjasama dengan berbagai pihak.
Penanganan ketergantungan Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif lainnya
(NAPZA) tidak cukup hanya dengan “menyembuhkan” pengguna secara individual,
namun perlu dilakukan perbaikan dalam pola interaksi dan komunikasi seluruh
anggota keluarga.
Reilly berpendapat
bawha terdapat beberapa karakteristik pada keluarga dengan pengguna Narkotika,
Psikotropika dan Zat Adiktif lainnya (NAPZA):
a.
Negativism. Komunikasi dalam keluarga cenderung negatif, diwarnai oleh
keluhan, kritik dan ekspresi ketidakpuasan. Mood dalam keluarga biasanya
negatif sehingga tingkah laku positif tidak mendapat perhatian. Jadi satu-satunya
cara untuk memperoleh perhatian orang tua adalah dengan bertingkah laku
negatif.
b.
Parental inconsistency. Biasanya penerapan peraturan dalam keluarga
tidak konsisten dan struktur keluarga tidak adekuat. Tidak ada batas yang jelas
antara anak dengan orangtua, atau sebaliknya orangtua sangat otoriter dan
dominan. Akibatnya tingkah laku negatif pada anak semakin memburuk karena tidak
ada konsekuensi yang jelas.
c.
Parental denial. Seringkali orangtua tidak mau mengakui seriusnya
masalah anak yang menggunakan Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif lainnya
(NAPZA). walaupun akhirnya memasukkan anak ke tempat rehabilitasi, tetapi
dengan mudah pula membiarkan anak keluar sebelum program selesai.
d.
Miscarried expression of anger. Penggunaan Narkotika, Psikotropika dan
Zat
Adiktif lainnya (NAPZA) dapat merupakan cara untuk mengatasi kemarahan akibat
kondisi keluarga yang penuh konflik atau perasaan diabaikan pada anak.
e.
Self medication. Anak menggunakan Narkotika, Psikotropika dan Zat
Adiktif lainnya (NAPZA) karena melihat orangtua terbiasa menggunakan alkohol
atau obat-obatan untuk memperoleh dan mengatasi perasaan cemas berlebihan.
f. Unrealistic
parental expectations. Bila orangtua menuntut anak terlalu tinggi dan
menimbulkan kecemasan atau perasaan marah, maka anak dapat menggunakan
Narkotika, Psikotopika dan Zat Adiktif lainnya (NAPZA) untuk menghindari
tuntutan tersebut. Kemungkinan lain, anak berusaha keras memenuhi tuntutan
orangtua sampai akhirnya menyadari bahwa sebaik apapun hasil yang dicapai,
orangtua tetap tidak puas. Perasaan frustasi dapat mengarah pada penggunaan
Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif lainnya (NAPZA).
KESIMPULAN
1.
Hasil penelitian ini menunjukkan adanya
hubungan negatif antara harga diri dengan sikap remaja terhadap penyalahgunaan
narkoba. Artinya makin tinggi harga diri maka semakin negatif sikap remaja
terhadap penyalahgunaan narkoba.
2.
Hubungan antara gaya hidup yang
meliputi kebiasaan merokok dan perilaku konsumsi narkoba dengan status gizi
remaja. Sebaliknya tidak terdapat hubungan antara gaya hidup yang meliputi
kebiasaan olahraga dan perilaku konsumsi minuman beralkohol dengan status gizi
remaja. Hal ini menunjukkan bahwa tidak semua gaya hidup remaja berhubungan
dengan status gizi. Status gizi remaja bisa dipengaruhi oleh faktor lain,
diantaranya adalah penyakit infeksi, genetik, dan hormonal.
3.
Adanya hubungan negatif antara persepsi
pola asuh orang tua authoritatif dengan sikap remaja terhadap penyalahgunaan
narkoba. Artinya semakin tinggi persepsi pola asuh orang tua authoritatif
semakin negatif sikap remaja terhadap penyalahgunaan narkoba.
4. Pembinaan
atau konseling keluarga dapat menjadi salah satu proses yang mendukung
pemulihan, tentunya dengan melibatkan kerjasama dengan berbagai pihak.
Penanganan ketergantungan Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif lainnya
(NAPZA) tidak cukup hanya dengan “menyembuhkan” pengguna secara individual,
namun perlu dilakukan perbaikan dalam pola interaksi dan komunikasi seluruh
anggota keluarga. Oleh karena itu, komunkikasi antara anggota keluarga menjadi
faktor penting dalam proses pembinaan. Adapun hal-hal yang sebaiknya dilakukan,
apabila salah satu atau lebih dari anggota keluarga menyalahgunakan Narkotika,
Psikotropika dan Zat Adiktif Lainnya
5. Penggunaan
Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif lainnya (NAPZA) sangat berbahaya. Jadi
sebaiknya harus dijauhi, karena akibatnya dapat merugikan diri sendiri, orang
lain dan bahkan negara. Di samping itu pula, penggunaan Narkotika, Psikotropika
dan Zat Adiktif lainnya (NAPZA) selalu dimonitor oleh pemerintah sehingga
ancaman hukumannya tergolong berat. Oleh karena itu, keluarga khususnya orang
tua dapat menjaga, memelihara dan mendidik anak demi masa depan
DAFTAR
PUSTAKA
Iftita Rochman1, Merryana Adriani2, HUBUNGAN GAYA HIDUP DENGAN STATUS GIZI
REMAJA Media Gizi Indonesia,
Vol.
9, No. 1 Januari–Juni 2013: hlm. 36–41
Boerhan
Hidajat, Roedi Irawan, Nurul Hidayati, NUTRISI DAN PERILAKU (NUTRITION AND
BEHAVIOR)
Trisakti dan Kamsih Astuti, HUBUNGAN ANTARA HARGA DIRI DAN PERSEPSI
POLA ASUH ORANG TUA YANG AUTHORITATIF DENGAN
SIKAP REMAJA TERHADAP
PENYALAHGUNAAN NARKOBA Jurnal Ilmiah
Guru
“COPE”, No. 02/Tahun XVIII/November
2014
Rendy
Tumimbang2,, PEMBINAAN KORBAN NARKOTIKA, PSIKOTROPIKA DAN ZAT ADIKTIF LAINNYA
(NAPZA) DI SULAWESI
UTARA1 Lex Crimen Vol.
II/No. 3/Juli/2013
Santoso
Soeroso,
Masalah
Kesehatan Remaja, Sari Pediatri, Vol. 3, No. 3, Desember
2001: 190 - 198